MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
(STAD,TGT,JIG SAW,ONE STAY TWO STRAY)
Student
Team Achievement Division (STAD)
A. Pengertian Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD
Pembelajaran
kooperatif tipe Student Team Achievement Division (STAD) yang dikembangkan oleh
Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkin (dalam Slavin,
1995) merupakan pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan
pembelajaran kooperatif yang cocok digunakan oleh guru yang baru mulai
menggunakan pembelajaran kooperatif.
Student
Team Achievement Divisions (STAD) adalah salah satu tipe pembelajaran
kooperatif yang paling sederhana. Siswa ditempatkan dalam tim belajar
beranggotakan empat orang yang merupakan campuran menurut tingkat kinerjanya,
jenis kelamin dan suku. Guru menyajikan pelajaran kemudian siswa bekerja dalam
tim untuk memastikan bahwa seluruh anggota tim telah menguasai pelajaran
tersebut. Akhirnya seluruh siswa dikenai kuis tentang materi itu dengan
catatan, saat kuis mereka tidak boleh saling membantu.
Model
Pembelajaran Koperatif tipe STAD merupakan pendekatan Cooperative Learning yang
menekankan pada aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi
dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi
yang maksimal. Guru yang menggunakan STAD mengajukan informasi akademik baru
kepada siswa setiap minggu mengunakan presentasi Verbal atau teks.
Menurut Slavin
(dalam Noornia, 1997: 21) ada lima komponen utama dalam pembelajaran kooperatif
metode STAD, yaitu:
a. Penyajian Kelas
Penyajian kelas
merupakan penyajian materi yang dilakukan guru secara klasikal dengan
menggunakan presentasi verbal atau teks. Penyajian difokuskan pada
konsep-konsep dari materi yang dibahas. Setelah penyajian materi, siswa bekerja
pada kelompok untuk menuntaskan materi pelajaran melalui tutorial, kuis atau
diskusi.
b. Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok
menjadi hal yang sangat penting dalam STAD karena didalam kelompok harus
tercipta suatu kerja kooperatif antar siswa untuk mencapai kemampuan akademik
yang diharapkan. Fungsi dibentuknya kelompok adalah untuk saling meyakinkan
bahwa setiap anggota kelompok dapat bekerja sama dalam belajar. Lebih khusus
lagi untuk mempersiapkan semua anggota kelompok dalam menghadapi tes individu.
Kelompok yang dibentuk sebaiknya terdiri dari satu siswa dari kelompok atas,
satu siswa dari kelompok bawah dan dua siswa dari kelompok sedang. Guru perlu
mempertimbangkan agar jangan sampai terjadi pertentangan antar anggota dalam
satu kelompok,
walaupun ini tidak berarti siswa dapat menentukan sendiri teman sekelompoknya.
c. Tes dan Kuis
Siswa diberi
tes individual setelah melaksanakan satu atau dua kali penyajian kelas dan
bekerja serta berlatih dalam kelompok. Siswa harus menyadari bahwa usaha dan
keberhasilan mereka nantinya akan memberikan sumbangan yang sangat berharga
bagi kesuksesan kelompok.
d. Skor peningkatan individual
Skor
peningkatan individual berguna untuk memotivasi agar bekerja keras memperoleh
hasil yang lebih baik dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Skor peningkatan
individual dihitung berdasarkan skor dasar dan skor tes. Skor dasar dapat
diambil dari skor tes yang paling akhir dimiliki siswa, nilai pretes yang
dilakukan oleh guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran kooperatif metode STAD.
e. Pengakuan kelompok
Pengakuan
kelompok dilakukan dengan memberikan penghargaan atas usaha yang telah
dilakukan kelompok selama belajar. Kelompok dapat diberi sertifikat atau bentuk
penghargaan lainnya jika dapat mencapai kriteria yang telah ditetapkan bersama.
Pemberian penghargaan ini tergantung dari kreativitas guru.
B. Tahap Pelaksanaan Pembelajaran Model STAD.
Menurut Maidiyah (1998: 7-13)
langkah-langkah pembelajaran kooperatif metode STAD adalah sebagai berikut:
a. Persiapan STAD
1) Materi
Materi pembelajaran kooperatif
metode STAD dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran secara kelompok.
Sebelum menyajikan materi pembelajaran, dibuat lembar kegiatan (lembar diskusi)
yang akan dipelajari kelompok kooperatif dan lembar jawaban dari lembar
kegiatan tersebut.
2) Menetapkan siswa dalam kelompok
Kelompok siswa merupakan bentuk
kelompok yang heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 4-5 siswa yang terdiri
dari siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Bila memungkinkan harus
diperhitungkan juga latar belakang, ras dan sukunya. Guru tidak boleh
membiarkan siswa memilih kelompoknya sendiri karena akan cenderung memilih
teman yang disenangi saja. Sebagai pedoman dalam menentukan kelompok dapat
diikuti petunjuk berikut (Maidiyah, 1998:7-8):
a) Merangking siswa
Merangking siswa berdasarkan hasil
belajar akademiknya di dalam kelas. Gunakan informasi apa saja yang dapat
digunakan untuk melakukan rangking tersebut. Salah satu informasi yang baik
adalah skor tes.
b) Menentukan jumlah kelompok
Setiap kelompok sebaiknya
beranggotakan 4-5 siswa.
Untuk menentukan berapa banyak
kelompok yang dibentuk,
bagilah banyaknya siswa dengan
empat. Jika hasil baginya tidak bulat, misalnya ada 42 siswa, berarti ada
delapan kelompok yang beranggotakan empat siswa dan dua kelompok yang
beranggotakan lima siswa. Dengan demikian ada sepuluh kelompok yang akan
dibentuk.
c) Membagi siswa dalam kelompok
Dalam melakukan hal ini,
seimbangkanlah kelompok- kelompok yang dibentuk yang terdiri dari siswa dengan
tingkat hasil belajar rendah, sedang hingga hasil belajarnya tinggi sesuai
dengan rangking. Dengan demikian tingkat hasil belajar rata- rata semua
kelompok dalam kelas kurang lebih sama.
d) Mengisi lembar rangkuman kelompok
isikan nama-nama siswa dalam setiap
kelompok pada lembar rangkuman kelompok (format perhitungan hasil kelompok
untuk pembelajaran kooperatif metode STAD).
3) Menentukan Skor Awal
Skor awal siswa dapat diambil
melaluiPre Test yang dilakukan guru sebelum pembelajaran kooperatif metode STAD
dimulai atau dari skor tes paling akhir yang dimiliki oleh siswa. Selain itu,
skor awal dapat diambil dari nilai rapor siswa pada semester sebelumnya.
4) Kerja sama kelompok Sebelum
memulai pembelajaran kooperatif, sebaiknya diawali dengan latihan-latihan kerja
sama kelompok. Hal ini merupakan kesempatan bagi setiap kelompok untuk
melakukan hal-hal yang menyenangkan dan saling mengenal antar anggota kelompok.
5) Jadwal Aktivitas
STAD terdiri atas lima kegiatan
pengajaran yang teratur, yaitu penyampaian materi pelajaran oleh guru, kerja
kelompok, tes penghargaan kelompok dan laporan berkala kelas.
b. Mengajar
Setiap pembelajaran dalam STAD
dimulai dengan presentasi kelas, yang meliputi pendahuluan, pengembangan,
petunjuk praktis, aktivitas kelompok, dan kuis.
Dalam presentasi kelas, hal-hal yang
perlu diperhatikan adalah:
1) Pendahuluan
a) Guru menjelaskan kepada siswa apa
yang akan dipelajari dan mengapa hal itu penting untuk memunculkan rasa ingin
tahu siswa. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memberi teka-teki, memunculkan
masalah-masalah yang berhubungan dengan materi dalam kehidupan sehari-hari, dan
sebagainya.
b) Guru dapat menyuruh siswa bekerja
dalam kelompok untuk menentukan konsep atau untuk menimbulkan rasa senang pada
pembelajaran.
2) Pengembangan
a) Guru menentukan tujuan-tujuan
yang ingin dicapai dari pembelajaran.
b) Guru menekankan bahwa yang
diinginkan adalah agar siswa mempelajari dan memahami makna, bukan hafalan.
c) Guru memeriksa pemahaman siswa
sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
d) Guru
menjelaskan mengapa jawabannya benar atau salah.
e) Guru
melanjutkan materi jika siswanya memahami pokok masalahnya.
3) Praktek
terkendali
a) Guru menyuruh siswa mengajarkan
soal-soal atau jawaban pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh guru.
b) Guru memanggil siswa secara acak
untuk menjawab pertanyaan atau menyelesaikan soal-soal yang diajukan oleh guru.
Hal ini akan menyebabkan siswa mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan
atau soal-soal yang diajukan.
c) Guru tidak perlu memberikan soal
atau pertanyaan yang lama penyelesaiannya pada kegiatan ini. Sebaliknya siswa
mengerjakan satu atau dua soal, dan kemudian guru memberikan umpan balik.
c. Kegiatan Kelompok
1) Pada hari pertama kegiatan
kelompok STAD, guru sebaiknya menjelaskan apa yang dimaksud bekerja dalam
kelompok, yaitu:
a)
Siswa mempunyai tanggung jawab untuk memastikan bahwa teman dalam
kelompoknya telah mempelajari materi dalam lembar kegiatan yang diberikan oleh
guru.
b) Tidak seorang pun siswa selesai
belajar sebelum semua anggota kelompok menguasai pelajaran.
c) Mintalah bantuan kepada teman
satu kelompok apabila seorang anggota kelompok mengalami kesulitan dalam
memahami materi sebelum meminta bantuan kepada guru.
d) Dalam satu kelompok harus saling
berbicara sopan.
2) Guru dapat mendorong siswa dengan
menambahkan peraturan- peraturan lain sesuai kesepakatan bersama. Selanjutnya
kegiatan yang dilakukan guru adalah:
a) Guru meminta siswa berkelompok
dengan teman sekelompoknya.
b) Guru memberikan lembar kegiatan
(lembar diskusi) beserta lembar jawabannya.
c) Guru menyarankan siswa agar
bekerja secara berpasangan atau dengan seluruh anggota kelompok tergantung pada
tujuan yang dipelajarinya. Jika mereka mengerjakan soal-soal maka setiap siswa
harus mengerjakan sendiri dan selanjutnya mencocokkan jawabannya dengan teman
sekelompoknya. Jika ada seorang teman yang belum memahami, teman sekelompoknya bertanggung
jawab untuk menjelaskan.
d) Tekankanlah bahwa lembar kegiatan (lembar diskusi) untuk
diisi dan dipelajari. Dengan demikian setiap siswa mempunyai lembar jawaban
untuk diperiksa oleh teman sekelompoknya.
3) Guru melakukan pengawasan kepada
setiap kelompok selama siswa bekerja dalam kelompok. Sesekali guru mendekati
kelompok untuk mendengarkan bagaimana anggota kelompok berdiskusi.
d. Kuis atau
Tes
Setelah siswa bekerja dalam kelompok
selama kurang lebih dua kali penyajian, guru memberikan kuis atau tes
individual. Setiap siswa menerima satu lembar kuis. Waktu yang disediakan guru
untuk kuis adalah setengah sampai satu jam pelajaran. Hasil dari kuis itu
kemudian diberi skor dan akan disumbangkan sebagai skor kelompok.
e. Penghargaan
Kelompok
1) Menghitung skor individu dan
kelompok
Setelah diadakan kuis, guru
menghitung skor perkembangan individu dan skor kelompok berdasarkan rentang
skor yang diperoleh setiap individu. Skor perkembangan ditentukan berdasarkan
skor awal siswa.
2) Menghargai hasil belajar kelompok
Setelah guru menghitung skor perkembangan individu dan skor
kelompok, guru mengumumkan kelompok yang memperoleh poin peningkatan tertinggi.
Setelah itu guru memberi penghargaan kepada kelompok tersebut yang berupa
sertifikat atau berupa pujian. Untuk pemberian penghargaan ini tergantung dari
kreativitas guru.
f. Mengembalikan kumpulan kuis yang pertama
Guru mengembalikan kumpulan kuis pertama kepada siswa
C.
Kebaikan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif tipe
STAD
Kebaikan dan Kelemahan Model
Pembelajaran Kooperatif Metode STADSetiap model pembelajaran mempunyai
kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengancooperative learning. Menurut
Slavin dalam Hartati (1997:21)cooperative learning mempunyai kelebihan dan
kekurangan sebagai berikut:
Kelebihan:
a. Dapat mengembangkan prestasi
siswa, baik hasil tes yang dibuat guru maupun tes baku.
b. Rasa percaya diri siswa
meningkat, siswa merasa lebih terkontrol untuk keberhasilan akademisnya.
c. Strategi kooperatif memberikan
perkembangkan yang berkesan pada hubungan interpersonal di antara anggota
kelompok yang berbeda etnis.
Keuntungan jangka panjang yang dapat
dipetik dari pembelajaran kooperatif menurut Nurhadi (2004:115-116) adalah
sebagai berikut :
a. Meningkatkan kepekaan dan
kesetiakawanan sosial.
b. Memungkinkan para siswa saling
belajar mengenai sikap, keterampilan, informasi, perilaku sosial, dan
pandangan-pandangan.
c. Memudahkan siswa melakukan
penyesuaian.
d. Memungkinkan terbentuk dan
berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen.
e. Menghilangkan sifat mementingkan
diri sendiri dan egois.
f. Membangun persahabatan yang dapat
berkelanjutan hingga masa dewasa.
g. Berbagai keterampilan sosial yang
diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dapat
dipraktekkan.
h. Meningkatkan rasa saling percaya
kepada sesama manusia.
i. Meningkatkan kemampuan memandang
masalah dan situasi dari berbagai perspektif.
j. Meningkatkan kesediaan
menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik.
k. Meningkatkan kegemaran berteman
tanpa memandang perbedaan kemampuan, jenis kelamin, normal ataucacat, etnis,
kelas sosial, agama, dan orientasi tugas.
Sedangkan keuntungan model
pembelajaran kooperatif metode STAD untuk jangka pendek menurut Soewarso
(1998:22) sebagai berikut :
a. Model pembelajaran kooperatif
membantu siswa mempelajari isi materi pelajaran yang sedang dibahas.
b. Adanya
anggota kelompok lain yang menghindari kemungkinan siswa mendapat nilai rendah,
karena dalam tes lisan siswa dibantu oleh anggota kelompoknya.
c. Pembelajaran kooperatif
menjadikan siswa mampu belajar berdebat, belajar mendengarkan pendapat orang
lain, dan mencatat hal-hal yang bermanfaat untuk kepentingan bersama-sama.
d. Pembelajaran kooperatif
menghasilkan pencapaian belajar siswa yang tinggi menambah harga diri siswa dan
memperbaiki hubungan dengan teman sebaya.
e. Hadiah atau penghargaan yang
diberikan akan memberikan dorongan bagi siswa untuk mencapai hasil yang lebih
tinggi.
f. Siswa yang lambat berpikir dapat
dibantu untuk menambah ilmu pengetahuan.
g. Pembentukan kelompok-kelompok
kecil memudahkan guru untuk memonitor siswa dalam belajar bekerja sama
Menurut Slavin
dalam Hartati (1997 : 21) cooperative learning mempunyai kekurangan sebagai
berikut:
a. Apabila guru terlena tidak
mengingatkan siswa agar selalu menggunakan keterampilan-keterampilan kooperatif
dalam kelompok maka dinamika kelompok akan tampak macet.
b. Apabila jumlah kelompok tidak
diperhatikan, yaitu kurang dari empat, misalnya tiga, maka seorang anggota akan
cenderung menarik diri dan kurang aktif saat berdiskusi dan apabila kelompok
lebih dari lima maka kemungkinan ada yang tidak mendapatkan tugas sehingga
hanya membonceng dalam penyelesaian tugas.
c. Apabila
ketua kelompok tidak dapat mengatasi konflik-konflik yang timbul secara
konstruktif, maka kerja kelompok akan kurang efektif.
Selain di atas,
kelemahan-kelemahan lain yang mungkin terjadi menurut Soewarso (1998:23) adalah
bahwa pembelajaran kooperatif bukanlah obat yang paling mujarab untuk
memecahkan masalah yang timbul dalam kelompok kecil, adanya suatu
ketergantungan, menyebabkan siswa yang lambat berpikir tidak dapat berlatih
belajar mandiri. Dan juga pembelajaran kooperatif memerlukan waktu yang lama
sehingga target mencapai kurikulum tidak dapat dipenuhi, tidak dapat menerapkan
materi pelajaran secara cepat, serta penilaian terhadap individu dan kelompok
dan pemberian hadiah menyulitkan bagi guru untuk melaksanakannya.
Kesimpulan yang dapat diambil dari
uraian di atas bahwa untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam pelaksanaan
model pembelajaran kooperatif metode STAD, sebaiknya dalam satu anggota
kelompok ditugaskan untuk membaca bagian yang berlainan, sehingga mereka dapat
berkumpul dan bertukar informasi. Selanjutnya, pengajar mengevaluasi mereka
mengenai seluruh bagian materi. Dengan cara inilah maka setiap anggota merasa
bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugasnya agar berhasil mencapai tujuan
dengan baik.
Strategi Pembelajaran
Kooperatif Tipe Teams Games-Tournament (TGT)
Teams Games-Tournaments (TGT) pada mulanya dikembangkan oleh David DeVries
dan Keith Edwards. Dalam TGT, para siswa dikelompokkan dalam tim belajar yang
terdiri atas empat orang yang heterogen. Guru menyampaikan pelajaran, lalu
siswa bekerja dalam tim mereka untuk memastikan bahwa semua anggota tim telah
menguasai pelajaran (Slavi, 2008). Secara umum, pembelajaran kooperatif tipe
TGT memiliki prosedur belajar yang terdiri atas siklus regular dari aktivitas
pembelajaran kooperatif. Games Tournament dimasukkan sebagai tahapan review
setelah setelah siswa bekerja dalam tim (sama dengan TPS).
Dalam TGT siswa memainkan game akademik dengan anggota tim lain untuk
menyumbangkan poin bagi skor timnya. Siswa memainkan game ini bersama tiga
orang pada “meja-turnamen”, di mana ketiga peserta dalam satu meja turnamen ini
adalah para siswa yang memiliki rekor nilai IPA terakhir yang sama. Sebuah
prosedur “menggeser kedudukan” membuat permainan ini cukup adil. Peraih rekor
tertinggi dalam tiap meja turnamen akan mendapatkan 60 poin untuk timnya, tanpa
menghiraukan dari meja mana ia mendapatkannya. Ini berarti bahwa mereka yang
berprestasi rendah (bermain dengan yang berprestasi rendah juga) dan yang
berprestasi tinggi (bermain dengan yang berprestasi tinggi) kedua-duanya
memiliki kesempatan yang sama untuk sukses. Tim dengan tingkat kinerja
tertinggi mendapatkan sertifikat atau bentuk penghargaan tim lainnya.
TGT memiliki dimensi kegembiraan yang diperoleh dari penggunaan permainan.
Teman satu tim akan saling membantu dalam mempersiapkan diri untuk permainan
dengan mempelajari lembar kegiatan dan menjelaskan masalah-masalah satu sama
lain, tetapi sewaktu siswa sedang bermain dalam game temannya tidak boleh
membantu, memastikan telah terjadi tanggung jawab individual.
Permainan TGT berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditulis pada kartu-kartu
yang diberi angka. Tiap-tiap siswa akan mengambil sebuah kartu dan berusaha
untuk menjawab pertanyaan yang sesuai dengan angka yang tertera. Turnamen ini
memungkinkan bagi siswa untuk menyumbangkan skor-skor maksimal buat
kelompoknya. Turnamen ini juga dapat digunakan sebagai review materi pelajaran.
Dalam Implementasinya secara teknis Slavin (2008) mengemukakan empat langkah
utama dalam pembelajaran dengan teknik TGT yang merupakan siklus regular dari
aktivitas pembelajaran, sebagai berikut:
- Step
1:
Pengajaran, pada tahap ini guru menyampaikan materi pelajaran.
- Step
2: Belajar
Tim, para siswa mengerjakan lembar kegiatan dalam tim mereka untuk menguasai
materi.
- Step
3: Turnamen,
para siswa memainkan game akademik dalam kemampuan yang homogen, dengan
meja turnamen tiga peserta (kompetisi dengan tiga peserta).
- Step
4: Rekognisi
Tim, skor tim dihitung berdasarkan skor turnamen anggota tim, dan tim
tersebut akan direkognisi apabila mereka berhasil melampaui kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya.
Sedangkan Pelaksanaan games dalam bentuk turnamen dilakukan dengan prosedur,
sebagai berikut:
- Guru menentukan nomor urut
siswa dan menempatkan siswa pada meja turnamen (3 orang , kemampuan
setara). Setiap meja terdapat 1 lembar permainan, 1 lbr jawaban, 1 kotak
kartu nomor, 1 lbr skor permainan.
- Siswa mencabut kartu untuk
menentukan pembaca I (nomor tertinggi) dan yang lain menjadi penantang I
dan II.
- Pembaca I menggocok kartu
dan mengambil kartu yang teratas.
- Pembaca I membaca soal
sesuai nomor pada kartu dan mencoba menjawabnya. Jika jawaban salah, tidak
ada sanksi dan kartu dikembalikan. Jika benar kartu disimpan sebagai
bukti skor.
- Jika penantang I dan II
memiliki jawaban berbeda, mereka dapat mengajukan jawaban secara
bergantian.
- Jika jawaban penantang
salah, dia dikenakan denda mengembalikan kartu jawaban yang benar (jika
ada).
- Selanjutnya siswa berganti
posisi (sesuai urutan) dengan prosedur yang sama.
- Setelah selesai, siswa
menghitung kartu dan skor mereka dan diakumulasi dengan semua tim.
- Penghargaan sertifikat, Tim
Super untuk kriteria atas, Tim Sangat Baik (kriteria tengah), Tim Baik
(kriteria bawah)
- Untuk melanjutkan turnamen,
guru dapat melakukan pergeseran tempat siswa berdasarkan prestasi pada
meja turnamen.
Keunggulan dan Kelemahan Pembelajaran TGT
Riset tentang pengaruh pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran telah
banyak dilakukan oleh pakar pembelajaran maupun oleh para guru di sekolah. Dari
tinjuan psikologis, terdapat dasar teoritis yang kuat untuk memprediksi bahwa
metode-metode pembelajaran kooperatif yang menggunakan tujuan kelompok dan
tanggung jawab individual akan meningkatkan pencapaian prestasi siswa. Dua
teori utama yang mendukung pembelajaran kooperatif adalah teori motivasi dan
teori kognitif.
Menurut Slavin (2008), perspektif motivasional pada pembelajaran kooperatif
terutama memfokuskan pada penghargaan atau struktur tujuan di mana para siswa
bekerja. Deutsch (1949)
dalam Slavin (2008) mengidentifikasikan tiga
struktur tujuan dalam pembelajaran kooperatif, yaitu:
- kooperatif, di mana usaha
berorientasi tujuan dari tiap individu memberi konstribusi pada pencapaian
tujuan anggota yang lain.
- kompetitif, di mana usaha
berorientasi tujuan dari tiap individu menghalangi pencapaian tujuan
anggota lainnya.
- individualistik, di mana
usaha berorientasi tujuan dari tiap individu tidak memiliki konsenkuensi
apa pun bagi pencapaian tujuan anggota lainnya.
Dari pespektif motivasional, struktur tujuan kooperatif menciptakan sebuah
situasi di mana satu-satunya cara anggota kelompok bisa meraih tujuan pribadi
mereka adalah jika kelompok mereka sukses. Oleh karena itu, mereka harus
membantu teman satu timnya untuk melakukan apa pun agar kelompok berhasil dan
mendorong anggota satu timnya untuk melakukan usaha maksimal.
Sedangkan dari perspektif teori kognitif, Slavin (2008) mengemukakan bahwa
pembelajaran kooperatif menekankan pada pengaruh dari kerja sama terhadap
pencapaian tujuan pembelajaran. Asumsi dasar dari teori pembangunan kognitif
adalah bahwa interaksi di antara para siswa berkaitan dengan tugas-tugas yang
sesuai mengingkatkan penguasaan mereka terhadap konsep kritik. Pengelompokan
siswa yang heterogen mendorong interaksi yang kritis dan saling mendukung bagi
pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan atau kognitif. Penelitian psikologi
kognitif menemukan bahwa jika informasi ingin dipertahankan di dalam memori dan
berhubungan dengan informasi yang sudah ada di dalam memori, orang yang belajar
harus terlibat dalam semacam pengaturan kembali kognitif, atau elaborasi dari
materi. Salah satu cara elaborasi yang paling efektif adalah menjelaskan
materinya kepada orang lain.
Namun demikian, tidak ada satupun model pembelajaran yang cocok untuk semua
materi, situasi dan anak. Setiap model pembelajaran memiliki karakteristik yang
menjadi penekanan dalam proses implementasinya dan sangat mendukung
ketercapaian tujuan pembelajaran. Secara psikologis, lingkungan belajar yang
diciptakan guru dapat direspon beragama oleh siswa sesuai dengan modalitas
mereka. Dalam hal ini, pembelajaran kooperatif dengan teknik TGT, memiliki
keunggulan dan kelemahan dalam implementasinya terutama dalam hal pencapaian
hasil belajar dan efek psikologis bagi siswa.
Slavin (2008), melaporkan beberapa laporan hasil riset tentang pengaruh
pembelajaran kooperatif terhadap pencapaian belajar siswa yang secara inplisit
mengemukakan keunggulan dan kelemahan pembelajaran TGT, sebagai berikut:
- Para siswa di dalam
kelas-kelas yang menggunakan TGT memperoleh teman yang secara signifikan
lebih banyak dari kelompok rasial mereka dari pada siswa yang ada dalam
kelas tradisional.
- Meningkatkan
perasaan/persepsi siswa bahwa hasil yang mereka peroleh tergantung dari
kinerja dan bukannya pada keberuntungan.
- TGT meningkatkan harga diri
sosial pada siswa tetapi tidak untuk rasa harga diri akademik mereka.
- TGT meningkatkan
kekooperatifan terhadap yang lain (kerja sama verbal dan nonberbal, kompetisi
yang lebih sedikit)
- Keterlibatan siswa lebih
tinggi dalam belajar bersama, tetapi menggunakan waktu yang lebih banyak.
- TGT meningkatkan kehadiran
siswa di sekolah pada remaja-remaja dengan gangguan emosional, lebih
sedikit yang menerima skors atau perlakuan lain.
Sebuah catatan yang harus diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran TGT
adalah bahwa nilai kelompok tidaklah mencerminkan nilai individual siswa.
Dengan demikian, guru harus merancang alat penilaian khusus untuk mengevaluasi
tingkat pencapaian belajar siswa secara individual.
Model Pembelajaran
Kooperatif Jigsaw
Pengertian Model
Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Dari sisi etimologi Jigsaw berasal dari bahasa
ingris yaitu gergaji ukir dan ada juga yang menyebutnya dengan istilah Fuzzle,
yaitu sebuah teka teki yang menyususn potongan gambar. Pembelajaran
kooperatif model jigsaw ini juga mengambil pola cara bekerja
sebuah gergaji ( jigsaw), yaitu siswa melakukan sesuatu kegiatan belajar dengan
cara bekerja sama dengan siswa lain untuk mencapai tujuan bersama.
Model pemebelajaran kooperatif model jigsaw
adalah sebuah model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja
kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang diungkapkan Lie (
1993: 73), bahwa
pembelajaran kooperatif model jigsaw
ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara siswa belajar dalam kelompok
kecil yang terdiri atas empat sampai dengan enam orang secara heterogen dan
siswa bekerja sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab secara
mandiri.
Dalam model pembelajaran jigsaw
ini siswa memiliki banyak kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan
mengelolah imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan
berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas keberhasilan
kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang dipelajari, dan dapat
menyampaikan kepada kelompoknya ( Rusman, 2008.203).
Bandingkan dengan Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Langkah-langkah
Model Pembelajaran Kooperatif Jigsaw
Menurut Rusman (2008 : 205)
model
pembelajaran jigsaw ini dikenal juga dengan kooperatif
para ahli. Karena anggota setiap kelompok dihadapkan pada permasalahan yang
berbeda. Namun, permasalahan yang dihadapi setiap kelompok sama, kita sebut
sebagai team ahli yang bertugas membahas permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya,
hasil pembahasan itu di bawah kekelompok asal dan disampaikan pada anggota
kelompoknya.
Kegiatan yang dilakukan pada model pembelajaran
kooperatif Jigsaw sebagai berikut:
- Melakukan mambaca untuk menggali informasi. Siswa memeperoleh topik
- topik permasalahan untuk di baca sehingga mendapatkan imformasi
dari permasalahan tersebut.
- Diskusi kelompok ahli. Siswa yang telah mendapatka topik permasalahan
yang sama bertemu dalam satu kelompok atau kita sebut dengan kelompok
ahli untuk membicaran topik permasalahan tersebut.
- Laporan kelompok, kelompok ahli kembali ke kelompok asal dan
menjelaskan dari hasil yang didapat dari diskusi tim ahli.
- Kuis dilakukan mencakup semua topik permasalahan yang
dibicarakan tadi.
- Perhitungan sekor kelompok dan menetukan penghargaan
kelompok.
Sedangkan menurut Stepen, Sikes and Snapp (1978 )
yang dikutip Rusman (2008), mengemukakan langkah-langkah Model
Pembelajaran Kooperatif Jigsaw sebagai berikut:
- Siswa
dikelompokan sebanyak 1 sampai dengan 5 orang sisiwa.
- Tiap orang
dalam team diberi bagian materi berbeda
- Tiap orang
dalam team diberi bagian materi yang ditugaskan
- Anggota
dari team yang berbeda yang telah mempelajari bagian sub bagian yang
sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusiksn sub
bab mereka.
- Setelah
selesai diskusi sebagai tem ahli tiap anggota kembali
kedalam kelompok asli dan bergantian mengajar teman satu tem mereka
tentang sub bab yang mereka kusai dan tiap anggota lainnya
mendengarkan dengan seksama.
- Tiap tim
ahli mempresentasikan hasil diskusi.
- Guru
memberi evaluasi.
- Penutup
Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)
Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi,
metode atau prosedur. Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi
siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode,
dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001). Beberapa model pembelajaran menurut
Suprijono (2009) antara lain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran
langsung dan model pembelajaran berbasis masalah. Salah satu model pembelajaran
alternatif yang dapat membantu siswa mengkonstruksikan pengalaman belajarnya
sendiri adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana
siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan
tingkat kemampuan yang berbeda. Model pembelajaran kooperatif ini memiliki
ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim, dkk., 2000) :
(1) siswa belajar dalam kelompok, secara kooperatif
untuk menuntaskan materi belajarnya.
(2) kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
(3) jika di dalam kelas terdapat siswa-siswa yang
terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka
diupayakan dalam setiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, dan jenis
kelamin yang berbeda pula.
(4) penghargaan lebih diutamakan pada kerjasama
kelompok daripada perorangan.
Isjoni (Stahl, 2009) menyatakan dengan melaksanakan model pembelajaran
kooperatif, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar,
disamping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik
keterampilan berpikir (
thinking skill) maupun keterampilan sosial (
social
skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, aktif bertanya,
menerima saran dam masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan
mengurangi perilaku yang menyimpang di kelas. Menurut Anita Lie (2008) model
pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu
pembelajaran yang bercirikan saling ketergantungan positif, tanggung jawab
perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antar anggota, pemprosesan
kelompok.
Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif memiliki enam langkah
utama yang dirangkum pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ada 6 (enam) fase
|
FASE-FASE
|
PERILAKU GURU
|
|
Fase
1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak didik
|
Menjelaskan
tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar
|
|
Fase
2 : menyajikan informasi
|
Mempresentasikan
informasi kepada siswa secara verbal
|
|
Fase
3 : mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar
|
Memberikan
penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
|
|
Fase
4 : membantu kerja tim dan belajar
|
Membantu
tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya
|
|
Fase
5 : mengevaluasi
|
Menguji
pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
|
Fase
6 : memberikan pengakuan atau penghargaan
|
Mempersiapkan
cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok
|
Suyatno (2009) menyatakan model pembelajaran kooperatif terdiri dari
beberapa tipe, diantaranya
Student Teams Achievement Division (STAD),
Numbered
Heads Together (NHT),
Jigsaw,
Think Pairs Share (TPS),
Teams
Games Turnament (TGT),
Group Investigation (GI),
Teams
Assisted Individualy (TAI), dan
Two Stay Two Stray (TSTS).
Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pertama kali dikembangkan oleh
Spencer Kagan pada tahu 1992. TSTS berasal dari bahasa Inggris yang berarti
“dua tinggal dua tamu”. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk
membagikan hasil informasi dengan kelompok lain (Isjoni, 2009).
Menurut Suyatno (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dengan
cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya
adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya
tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja
kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.
Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau dua
tinggal dua tamu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk
guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka
diskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari
masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain.
Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai
kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyajikan
hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai
tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai
melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Setelah
kembali ke kelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun mereka yang
bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka
tunaikan.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TSTS sebagai berikut :
(1) guru menyampaikan materi pelajaran atau
permasalahan kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.
(2) guru membentuk beberapa kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen dengan kemampuan
berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah) maupun jenis kelamin.
(3) guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau
tugas untuk dibahas dalam kelompok.
(4) siswa 2-3 orang dari tiap kelompok berkunjung ke
kelompok lain untuk mencatat hasil pembahasan LKS atau tugas dari kelompok
lain, dan sisa kelompok tetap dikelompoknya untuk menerima siswa yang bertamu
ke kelompoknya.
(5) siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya
masing-masing dan menyampaikan hasil kunjungannya kepada teman yang tetap
berada dalam kelompok. Hasil kunjungan dibahas bersama dan dicatat.
(6) hasil diskusi kelompok dikumpulkan dan salah
satu kelompok mempresentasikan jawaban mereka, kelompok lain memberikan
tanggapan.
(7) guru memberikan klarifikasi terhadap jawaban
yang benar.
(8) guru membimbing siswa merangkum pelajaran.
(9) guru memberikan penghargaan secara kelompok.
Menurut Fatirul (2008) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS
yaitu dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa.
Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok tetapi bisa juga
bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban
sesama teman dalam suatu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa.
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini yaitu jumlah
siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat dan
peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dan kunjungan dari 2 orang
anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam
pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain
itu, guru juga harus membutuhkan banyak persiapan.
Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray (TSTS)
Model pembelajaran mempunyai makna yang lebih luas daripada suatu strategi,
metode atau prosedur. Model pembelajaran dimaksudkan sebagai pola interaksi
siswa dengan guru di dalam kelas yang menyangkut strategi, pendekatan, metode,
dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar di kelas (Tim MKPBM, 2001). Beberapa model pembelajaran menurut
Suprijono (2009) antara lain model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran
langsung dan model pembelajaran berbasis masalah. Salah satu model pembelajaran
alternatif yang dapat membantu siswa mengkonstruksikan pengalaman belajarnya
sendiri adalah model pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran dimana
siswa belajar dalam kelompok kecil yang heterogen dan dikelompokkan dengan
tingkat kemampuan yang berbeda. Model pembelajaran kooperatif ini memiliki
ciri-ciri sebagai berikut (Ibrahim, dkk., 2000) :
(1) siswa belajar dalam kelompok, secara kooperatif
untuk menuntaskan materi belajarnya.
(2) kelompok siswa terdiri dari siswa-siswa yang
memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
(3) jika di dalam kelas terdapat siswa-siswa yang
terdiri dari beberapa ras, suku, budaya, jenis kelamin yang berbeda, maka
diupayakan dalam setiap kelompok terdiri dari ras, suku, budaya, dan jenis
kelamin yang berbeda pula.
(4) penghargaan lebih diutamakan pada kerjasama
kelompok daripada perorangan.
Isjoni (Stahl, 2009) menyatakan dengan melaksanakan model pembelajaran
kooperatif, siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar,
disamping itu juga bisa melatih siswa untuk memiliki keterampilan, baik
keterampilan berpikir (
thinking skill) maupun keterampilan sosial (
social
skill), seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, aktif bertanya,
menerima saran dam masukan dari orang lain, bekerja sama, rasa setia kawan, dan
mengurangi perilaku yang menyimpang di kelas. Menurut Anita Lie (2008) model
pembelajaran kooperatif akan dapat menumbuhkan pembelajaran efektif yaitu
pembelajaran yang bercirikan saling ketergantungan positif, tanggung jawab
perseorangan, interaksi promotif, komunikasi antar anggota, pemprosesan
kelompok.
Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif memiliki enam langkah
utama yang dirangkum pada Tabel 1 berikut:
Tabel 1 Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif ada 6 (enam) fase
|
FASE-FASE
|
PERILAKU GURU
|
|
Fase
1 : menyampaikan tujuan dan mempersiapkan anak didik
|
Menjelaskan
tujuan pembelajaran dan mempersiapkan siswa siap belajar
|
|
Fase
2 : menyajikan informasi
|
Mempresentasikan
informasi kepada siswa secara verbal
|
|
Fase
3 : mengorganisir peserta didik ke dalam tim-tim belajar
|
Memberikan
penjelasan kepada siswa tentang tata cara pembentukan tim belajar dan
membantu kelompok melakukan transisi yang efisien
|
|
Fase
4 : membantu kerja tim dan belajar
|
Membantu
tim-tim belajar selama siswa mengerjakan tugasnya
|
|
Fase
5 : mengevaluasi
|
Menguji
pengetahuan siswa mengenai berbagai materi pembelajaran atau
kelompok-kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
|
Fase
6 : memberikan pengakuan atau penghargaan
|
Mempersiapkan
cara untuk mengakui usaha dan prestasi individu maupun kelompok
|
Suyatno (2009) menyatakan model pembelajaran kooperatif terdiri dari
beberapa tipe, diantaranya
Student Teams Achievement Division (STAD),
Numbered
Heads Together (NHT),
Jigsaw,
Think Pairs Share (TPS),
Teams
Games Turnament (TGT),
Group Investigation (GI),
Teams
Assisted Individualy (TAI), dan
Two Stay Two Stray (TSTS).
Model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pertama kali dikembangkan oleh
Spencer Kagan pada tahu 1992. TSTS berasal dari bahasa Inggris yang berarti
“dua tinggal dua tamu”. Teknik ini memberi kesempatan kepada siswa untuk
membagikan hasil informasi dengan kelompok lain (Isjoni, 2009).
Menurut Suyatno (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS adalah dengan
cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. Sintaknya
adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya
tetap dikelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain, kerja
kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok, dan laporan kelompok.
Menurut Suprijono (2009) model pembelajaran kooperatif tipe TSTS atau dua
tinggal dua tamu diawali dengan pembagian kelompok. Setelah kelompok terbentuk
guru memberikan tugas berupa permasalahan-permasalahan yang harus mereka
diskusikan jawabannya. Setelah diskusi intrakelompok selesai, dua orang dari
masing-masing kelompok meninggalkan kelompoknya untuk bertamu ke kelompok lain.
Anggota kelompok yang tidak mendapat tugas sebagai duta (tamu) mempunyai
kewajiban menerima tamu dari suatu kelompok. Tugas mereka adalah menyajikan
hasil kerja kelompoknya kepada tamu tersebut. Dua orang yang bertugas sebagai
tamu diwajibkan bertamu kepada semua kelompok. Jika mereka telah selesai
melaksanakan tugasnya, mereka kembali ke kelompoknya masing-masing. Setelah
kembali ke kelompok asal, baik siswa yang bertugas bertamu maupun mereka yang
bertugas menerima tamu mencocokkan dan membahas hasil kerja yang telah mereka
tunaikan.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe TSTS sebagai berikut :
(1) guru menyampaikan materi pelajaran atau
permasalahan kepada siswa sesuai dengan kompetensi dasar yang akan dicapai.
(2) guru membentuk beberapa kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari 4-5 orang siswa secara heterogen dengan kemampuan
berbeda-beda baik tingkat kemampuan (tinggi, sedang, dan rendah) maupun jenis
kelamin.
(3) guru memberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) atau
tugas untuk dibahas dalam kelompok.
(4) siswa 2-3 orang dari tiap kelompok berkunjung ke
kelompok lain untuk mencatat hasil pembahasan LKS atau tugas dari kelompok
lain, dan sisa kelompok tetap dikelompoknya untuk menerima siswa yang bertamu
ke kelompoknya.
(5) siswa yang bertamu kembali ke kelompoknya
masing-masing dan menyampaikan hasil kunjungannya kepada teman yang tetap
berada dalam kelompok. Hasil kunjungan dibahas bersama dan dicatat.
(6) hasil diskusi kelompok dikumpulkan dan salah
satu kelompok mempresentasikan jawaban mereka, kelompok lain memberikan
tanggapan.
(7) guru memberikan klarifikasi terhadap jawaban
yang benar.
(8) guru membimbing siswa merangkum pelajaran.
(9) guru memberikan penghargaan secara kelompok.
Menurut Fatirul (2008) kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS
yaitu dapat digunakan dalam semua mata pelajaran dan semua tingkat usia siswa.
Model ini tidak hanya bekerja sama dengan anggota sekelompok tetapi bisa juga
bekerja sama dengan kelompok lain yang memungkinkan terciptanya keakraban
sesama teman dalam suatu kelas dan lebih berorientasi pada keaktifan siswa.
Sedangkan kekurangan dari model pembelajaran kooperatif tipe TSTS ini yaitu
jumlah siswa dalam satu kelas tidak boleh ganjil harus berkelipatan empat dan
peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dan kunjungan dari 2 orang
anggota kelompok yang satu ke kelompok lain membutuhkan perhatian khusus dalam
pengelolaan kelas serta dapat menyita waktu pengajaran yang berharga. Selain
itu, guru juga harus membutuhkan banyak persiapan.